Penelitian Para Ahli tentang Propolis
Produk lebah ( salah satunya adalah Propolis) juga disebutkan dalam Al-Quran Surat An-Nahl 69 : .... dari perut lebah itu keluar cairan yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia...
Beberapa penelitian ahli tentang Propolis
- Roy Kupinsel, MD (Maitland Florida), sarang lebah lebih steril dari ruang operasi rumah sakit, menkonsumsi propolis tidak ada efek samping
- Uji Kanker Cape (Caffeid Acid Phenethyl Esther) di Comprehensive Cancer Center & Inst. of Cancer Research, Colombia. Sel kanker aktif pada sel DNA manusia dapat dicegah hingga 50% dengan 5mg Propolis, jika ditingkatkan hingga 10mg dosis Propolis maka pertumbuhan sel kanker dapat dicegah
- Hospital Lien Yun gang Jiansu (Dr. Fang Chu), membantu pasien yang dianggap mengidap penyakit HYPERLIPIDEMIA (kandungan lemak dalam darah) serta mampu mengobati penyakit jantung dengan konsumsi secara teratur.
- Gerardis 1579 (Histories of Plant), propolis memiliki zat yang dapat menyembuhkan dengan cepat dan efektif digunakan pada zaman perang BOER sebagai penyembuh luka.
- Nicholas Culpaper (Compleat Herbal), Propolis baik untuk panas serta pengobatan luka bakar.
- University of Colombia, propolis dapat membantu sistem kekebalan tubuh pada manusia dan juga sangat efektif melawan infeksi, serta menemukan suatu zat anti kanker
- Prof. Arnold Beckett, propolis dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur.
- Dr. John Graange (Department of Microbiology, National health), propolis dapat mengembangkan regenerasi jaringan penghubung tulang rawan
- David James (Ahli Gizi), propolis dapat menyembuhkan pasien yang berpenyakit kronis dan penyakit mulut dengan cepat
- Dr. Franz K. Fleks (Austria), menggunakan propolis untuk penyembuhan luka-luka borok sehat dalam 3 hari.
- Team Riset Rusia, didalam propolis terdapat zat antibiotik alami dan antiviral yang tidak mempunyai efek samping, vitamin, asam amino, mineral serta sangat mujarab untuk penyakit infeksi perut, mulut, tenggorokan.
- Dr. Peter mansfield, menggunakan propolis untuk penyembuhan demam, panas dan flu.
- Institute of Radiology Sarajevo, propolis dipergunakan untuk mengobati pasien penyakit kanker akibat radiasi
- V.P Kivalkina (Majalah Antibiotik), propolis sangat efektif untuk infeksi dan tanpa kadaluarsa.
Penelitian Propolis di Indonesia
Fakultas Biologi UGM
Seiring dengan tren pemanfaatan propolis, para periset menguji ilmiah
lem lebah itu. Dra Mulyati Sarto MSi, peneliti di Fakultas Biologi
Universitas Gadjah Mada, membuktikan bahwa propolis sangat aman
dikonsumsi. Dalam uji praklinis, Mulyati membuktikan LD50 propolis
mencapai lebih dari 10.000 mg. LD50 adalah lethal dosage alias dosis
yang mematikan separuh hewan percobaan.
Jika dikonversi, dosis itu setara 7 ons sekali konsumsi untuk manusia
berbobot 70 kg. Faktanya, dosis konsumsi propolis di masyarakat amat
rendah, hanya 1 – 2 tetes dalam segelas air minum. Dosis penggunaan lain
pun hanya 1 sendok makan dilarutkan dalam 50 ml air.
‘Tingkat toksisitas propolis sangat rendah, jika tak boleh dibilang
tidak toksik,’ kata Mulyati. Bagaimana efek konsumsi dalam jangka
panjang? Master Biologi alumnus Universitas Gadjah Mada itu juga menguji
toksisitas subkronik. Hasilnya konsumsi propolis dalam jangka panjang
tak menimbulkan kerusakan pada darah, organ hati, dan ginjal. Dua uji
ilmiah itu – toksisitas akut dan toksisitas subkronik – membuktikan
bahan suplemen purba itu sangat aman dikonsumsi.
Fak. Kedokteran UGM
Prof Dr Mustofa MKes, peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada, meriset propolis secara in vitro sebagai antikanker. Sang
guru besar menggunakan sel HeLa dan Siha – keduanya sel kanker serviks –
serta T47D dan MCF7 (sel kanker payudara).
Selain itu ia juga menguji in vivo pada mencit yang diinduksi 20 mg
dimethilbenz(a)anthracene (DMBA), senyawa karsinogenik pemicu sel
kanker. Frekuensi pemberian 2 kali sepekan selama 5 minggu. Hasil riset
menunjukkan propolis mempunyai efek sitotoksik pada sel kanker. Nilai
IC50 pada uji in vitro mencapai 20 – 41 ?g/ml. IC50 adalah inhibition
consentration alias konsentrasi penghambatan propolis terhadap sel
kanker.
Untuk menghambat separuh sel uji coba, hanya perlu 20 – 41 ?g/ml.
Angka itu setara 0,02 – 0,041 ppm. Bandingkan dengan tokoferol yang
paling top sebagai antioksidan. Nilai IC50 tokoferol cuma 4 – 8 ppm.
Artinya ntuk menghambat radikal bebas dengan propolis perlu lebih
sedikit dosis ketimbang tokoferol. Dengan kata lain nilai antioksidan
propolis jauh lebih besar daripada tokoferol.
Pada uji in vivo, propolis berefek antiproliferasi. Proliferasi
adalah pertumbuhan sel kanker yang tak terkendali sehingga berhasil
membentuk kelompok. Dari kelompok itu muncul sel yang lepas dari
induknya dan hidup mandiri dengan ‘merantau’ ke jaringan lain.
Antiproliferasi berarti propolis mampu menghambat pertumbuhan sel
kanker.
‘Terjadi penurunan volume dan jumlah nodul kanker pada tikus yang
diberi 0,3 ml dan 1,2 ml propolis,’ ujar dr Woro Rukmi Pratiwi MKes,
SpPD, anggota tim riset. Dalam penelitian itu belum diketahui senyawa
aktif dalam propolis yang bersifat antikanker. Namun, menurut dr Ivan
Hoesada di Semarang, Jawa Tengah, senyawa yang bersifat antikanker
adalah asam caffeat fenetil ester

Tidak ada komentar:
Posting Komentar